Oleh Hendra Gunawan*
Dalam banyak hal di republik ini, menurut Effendi Gazhali, kita hanya baru bisa mimpi. Masih lumayan, karena ini menunjukkan kita masih mempunyai harapan atau cita-cita, mendambakan keadaan Indonesia yang lebih baik.
Dalam sektor pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia mempunyai visi alias mimpi menjadi universitas kelas dunia. Baru-baru ini, DIKTI telah mengumumkan 50 perguruan tinggi (baik negeri maupun swasta) yang ‘menjanjikan’. Sementara itu, menurut The Times Higher Education Supplement, beberapa perguruan tinggi Indonesia mencapai peringkat dua ratusan di antara ribuan perguruan tinggi di seluruh dunia pada tahun lalu (entah tahun ini). Walau demikian, secara umum masih terdapat banyak hal yang perlu diperbaiki. Bukan sekadar untuk meningkatkan peringkat, namun lebih untuk meningkatkan kinerja dan kualitas perguruan tinggi kita.
Kualitas dalam hal apa? Tentunya kualitas dalam Tri Dharma, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Namun untuk meningkatkan kualitas dalam tiga hal tersebut, kita juga perlu meningkatkan kualitas sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pendanaan, serta kualitas para pelakunya, yakni para dosen dan tenaga pendukung, yang akan berdampak pada kualitas lulusannya. Dalam tulisan ini, saya akan menyoroti kualitas dosen terlebih dahulu.
Baru-baru ini saya mendapat kunjungan dari seorang kolega asal Jepang. Setelah mendapat gelar doktor dari Universitas Tokyo (universitas kedua terbaik di Asia setelah Universitas Beijing dan ke-19 terbaik di dunia menurut The Times Higher Education Supplement 2006), kolega saya ini sekarang menjabat sebagai dosen di sebuah universitas kecil di Tokyo.
View full article »